Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Januari 2012

Tahukah Anda Bagaimana Bintang Bisa Berkedip?


Jika malam hari tiba, diatas langit nun jauh disana, bintang-bintang bertaburan indah dengan berkedip. Kerlap-kerlip cahayanya seperti lampu disco, dan terkadang warnanya pun berubah-ubah dari putih ke biru atau merah dan seterusnya.

Sebenarnya bintang memancarkan energinya relatif konstan/stabil setiap saat. Jadi, perubahan yang terjadi tidak berasal dari bintangnya. Ada hal-hal lain yang menyebabkan bintang tampak berkedip. Apa ya itu?

Penyebab utama karena bumi memiliki atmosfer. Banyaknya lapisan udara dengan temperatur yang berbeda-beda di atmosfer, menyebabkan lapisan-lapisan udara tersebut bergerak-gerak, sehingga menimbulkan turbulensi.

Turbulensi bentuknya sama seperti ombak atau gelombang di laut dan kolam renang. Jadi, untuk mendapatkan gambaran seperti apa yang terjadi di atmosfer, bayangkan sebuah kolam renang yang permukaannya tidak tenang.

Sebuah koin yang terletak diam di dasar kolam renang akan tampak bergerak-gerak, jika kita lihat dari atas permukaan air. Gerak semu ini terjadi, karena adanya refraksi/pembiasan.

Menurut ilmu fisika, ketika berkas cahaya melewati dua medium yang indeks biasnya berbeda, cahaya tersebut akan dibiaskan/dibelokkan. Untuk kasus koin di kolam renang, cahaya yang dipantulkan koin melewati dua medium yang indeks biasnya berbeda, yaitu air dan udara, sebelum jatuh di mata.

Dan karena permukaan air yang tidak tenang, posisi koin yang sebenarnya tetap pun akan tampak berpindah-pindah.

Hal yang sama terjadi pada cahaya bintang yang melewati atmosfer bumi. Ketika memasuki atmosfer bumi, cahaya bintang akan dibelokkan oleh lapisan udara yang bergerak-gerak.

Akibatnya posisi bintang akan berpindah-pindah. Tetapi, karena perubahan posisinya sangat kecil untuk dideteksi mata, maka kita akan melihatnya sebagai kedipan. Gambar dari APOD berikut menunjukkan, seperti apa perubahan posisi yang dimaksud.


Bagaimana dengan planet, mengapa planet tidak tampak berkedip?

Bintang, sebesar apapun ukurannya dan sedekat apapun jaraknya, akan tampak sebagai sebuah titik cahaya, jika diamati dari bumi, bahkan dengan teleskop terbaik yang dimiliki manusia.

Sedangkan planet yang memiliki ukuran yang jauh lebih kecil daripada bintang, akan tampak lebih besar dari bumi, karena jaraknya yang jauh lebih dekat. Dengan teleskop kecil saja, kita akan dapat melihat planet sebagai sebuah piringan, bukan sebagai sebuah titik cahaya.

Ukuran piringan ini cukup besar, sehingga turbulensi atmosfer tidak memberikan pengaruh yang nyata pada berkas cahaya planet. Dilihat dari permukaan bumi, planet pun akan tampak tidak berkedip.

Kecuali pada kondisi atmosfer yang turbulensinya sangat kuat, atau saat planetberada di dekat horison, planet akan tampak berkedip juga. Karena pada saatplanet berada di dekat horison (sesaat setelah terbit atau sebelum tenggelam), berkas cahayanya harus melewati atmosfer yang lebih tebal.

Setelah kita tahu bahwa penyebab bintang tampak berkedip adalah atmosfer bumi, kita bisa sesuaikan dengan kebutuhan kita dalam melakukan pengamatan. Jika kita ingin mengamati bintang dengan gangguan atmosfer paling sedikit, kita bisa tunggu hingga bintang tersebut berada dekat meridian.

Atau jika kita ingin melihat bintang tidak berkedip sama sekali, kita bisa pergi ke luar angkasa, atau bulan, atau planet yang tidak memiliki atmosfer (ingat, bulan tidak memiliki atmosfer).











sumber: ilmukitabersama
Read More >>

Sabtu, 07 Januari 2012

Teori Mengejutkan Bumi Tak Butuh Bulan

www.blogbelajarpintar.blogspot.com

A jet takes off from Dallas-Fort Worth International Airport as the enlarged full moon rises in the background


Astronom Amerika melakukan simulasi stabilitas Bumi pada sumbunya. Hasil yang didapat cukup mengejutkan. Apa jadinya jika Bumi ‘memutuskan’ bulan?
Astronom Amerika mengatakan, jika Bumi tak memiliki bulan, planet ini masih mampu mendukung keberadaan kehidupan. Peneliti yakin, efek stabilisasi dari bulan hanya terjadi pada rotasi Bumi dan hal ini tak sepenting yang dikira sebelumnya.
Ilmuwan telah lama berpendapat, tanpa adanya bulan, kemiringan Bumi akan terus berubah dan membuatnya mengalami fluktuasi dalam iklim, karena matahari bersinar hampir langsung ke kutub dan hal ini diyakini akan mempengaruhi kehidupan.
Namun astronom University of Idaho menunjukkan, tanpa adanya bulan, kemiringan Bumi hanya akan bergeser 10 derajat dan pengaruh planet lain di tata surya akan membuat planet hunian manusia ini tetap stabil.
Selain itu seperti dilaporkan Astrobiology Magazine dari NASA, astronom yakin bulan tak dibutuhkan planet lain di semesta agar bisa dihuni. Dibanding bulan di planet lain, bulan Bumi sangat besar dan hanya sekitar seratus kali lebih kecil dibanding orang tuanya.
Perbandingannya, Mars 60 juta kali lebih besar dibanding bulan terbesarnya, Phobos. Sementara bulan Bumi memang memberi stabilitas, data baru mengungkap, daya tarik planet lain, terutama Yupiter, akan mencegah Bumi berayun terlalu ganas.
www.blogbelajarpintar.blogspot.com
Not so important after all? Earth would still be stable without its moon, astronomers claim
“Karena Yupiter menjadi planet paling besar, planet ini bisa mempertegas batas rata-rata di tata surya,” ujar astronom Jason Barnes.
Tanpa bulan, Barnes dan rekan menemukan, Bumi hanya bergeser pada sumbunya 10-20 derajat selama setengah miliar tahun.
Perubahan satu atau dua derajat awalnya diduga bisa menjadi penyebab Zaman Es namun astronom yakin sementara pergeseran ini mempengaruhi iklim, ‘perubahan ini tak akan mempengaruhi kehidupan intelijen’.
“Bulan besar bisa menstabilkan (planet) namun dalam banyak kasus, bulan tak dibutuhkan,” tutupnya seperti ditulis Dailymail.


The spectacular Lunar Eclispe photographed over the snow-covered fields high in the Pennines above Holmbridge, West Yorkshire
This spectacular picture of the lunar eclispe was captured over the snow-covered fields high in the Pennines above Holmbridge, West Yorkshire
The winter solstice lunar eclipse as seen over rooftops and Horton Park mosque, Bradford
The winter solstice lunar eclipse as seen over rooftops and Horton Park mosque, Bradford


The Moon is engulfed in the Earth's shadow as it nears the peak of a rare winter solstice The Moon is engulfed in the Earth's shadow as it nears the peak of a rare winter solstice
The red moon is viewed with a telescope from Palm Beach Gardens, US, left, while the moon begins to be covered by the Earth's shadow in Edinburgh


A picture taken in New York shows the moon as a total eclipse nears its peak A total eclipsed moon is seen from Silver Spring, Maryland,
A picture taken in New York, left, shows the moon as the total eclipse nears its peak while in Silver Spring, Maryland, right, the moon turns a deep red



The blood-red moon and the monument of The Savior of The World during a total lunar eclipse as seen from San Salvador last night

The blood-red moon and the monument of The Savior of The World during a total lunar eclipse as seen from San Salvador last night
The lunar eclipse is visible in Scottish Borders as the moon starts to move into the Earth's shadow
The lunar eclipse is visible in Scottish Borders as the moon starts to move into the Earth's shadow
  The moon in various stages of a total lunar eclipse as seen from Mexico City

The moon in various stages of a total lunar eclipse this morning as seen from Mexico City
Shrouded in darkness: Part of the moon is in darkness as the the earth's shadow moves across it during today's lunar eclipse
Shrouded in darkness: Part of the moon is in darkness as the earth's shadow moves across it during today's lunar eclipse in this image taken from Dallas
Pacman-like: A wedge of the moon is obscured by shadow in this image taken from Great Falls, Virginia. If conditions are right, the surface of the moon could glow blood red later this morning
Pacman-like: A wedge of the moon is obscured by shadow in this image taken from Great Falls, Virginia









sumber: http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2024593/Why-Earth-needed-moon-life-exist.html
Read More >>

Rabu, 04 Januari 2012

[Foto] Eksklusif Permukaan Planet Mars





















sumber: http://www.presidiacreative.com/wp-content/uploads/2010/02/28_01_2010_0170838001264698280_nasa.jpg
Read More >>

Minggu, 01 Januari 2012

7 Tahun Lalu, Bumi Hampir Kiamat



Sebuah lontaran energi sinar gamma menghantam bumi selama 0,2 detik. Tetapi jumlah energi yang dihantarkan sama dengan energi sinar matahari selama 500 ribu tahun. (dailygalaxy.com)


Pada 27 Desember 2004, mendadak sebuah lontaran energi tak kasat mata menghantam Bumi. Ia diperkirakan berasal dari jarak yang cukup jauh, yakni dari konstelasi Sagitarius yang jaraknya mencapai sekitar 50 ribu tahun cahaya atau kurang lebih 473 ribu triliun kilometer.

Ledakan dan hantaman sinar gamma ini pertamakali terdeteksi oleh satelit Swift milik NASA. Adapun bagi astronom, pengamatan terhadap kejadian tersebut memberikan contoh paling detail dari lontaran energi yang pernah terekam sepanjang sejarah.

Meski lontaran energi itu hanya menyerang selama sekitar 0,2 detik, tetapi energi itu sama banyak dengan energi sinar matahari yang menyinari Bumi hingga 500 ribu tahun lamanya.

Akibat hantaman energi sinar gammar dahsyat tersebut, banyak satelit elektronik yang mengorbit Bumi mengalami kerusakan. Atmosfir teratas Bumi juga mengalami ionisasi luar biasa.

Setelah diteliti lebih lanjut, astronom mendapati bahwa sumber serangan adalah magnetar langka yakni SGR 1806-20 yang berada di sisi lain galaksi Bima Sakti.

Soft gamma ray repeaters (SGRs) ini terjadi saat medan magnet yang tengah terbelit berupaya untuk merapikan kembali dirinya dan memecah kerak magnetar tersebut. Akibatnya, terjadi lontaran energi dengan zona mematikan yang bisa mencapai beberapa tahun cahaya.

Magnetar sendiri punya medan magnet 1.000 kali lipat dibanding pulsar (bintang neutron bermedan megnet tinggi yang memancarkan radiasi elektromagnetik) biasa. Ia sangat kuat dan bisa mengakibatkan kehancuran apapun yang ada dalam jarak 1.000 kilometer di sekitarnya.

Ilustrasi lontaran sinar gamma yang menghantam atmosfir bumi, 2004 lalu. (Dailygalaxy.com)

“Satelit Swift didesain untuk menemukan lontaran yang tidak lazim,” kata Neil Gehrels, peneliti dari Goddard Space Flight Center, NASA, dikutip dari Daily Galaxy, 27 Desember 2011. “Kita benar-benar terhantam telak dengan yang satu ini,” ucapnya.

Beruntung bagi Bumi, jarak sumber ledakan itu sangat jauh. Dan gamma-ray burst (GRB) berikutnya yang akan datang, kemungkinan hadir dari jarak ribuan tahun cahaya dari Bumi.

Fenomena seperti ini juga kemungkinan hanya terjadi satu kali dalam satu dekade. Artinya, GRB yang menghantam atmosfir Bumi pada tahun 2004 lalu merupakan kejadian yang sangat langka.





Read More >>

Google Earth Temukan Kawah Meteor Legendaris


 
(Fino Yurio Kristo - detikinet)

Sydney - Google Earth kembali jadi perangkat penting dalam riset para ilmuwan. Seorang akademisi di Macquire University, Australia, menemukan kawah di wilayah bernama Palm Valley berkat bantuan layanan peta online gratisan itu.

Kawah tersebut diklaim bukan sembarangan karena merupakan bekas tubrukan meteor dan yang lebih istimewa, terkait dengan cerita legendaris dari suku Aborigin. Konon dalam cerita Aborigin, zaman dahulu ada bintang yang jatuh ke bumi.


"Suku pribumi Australia mengisahkan banyak cerita mengenai bintang yang jatuh dari langit dengan suara sekeras geledek. Salah satu cerita mengungkap lokasi jatuhnya bintang di wilayah Northern Territory," tukas Duane Hamacher, sang penemu.

"Saya pun mencarinya melalui Google Earth, namun ketika menemukan sesuatu seperti kawah, saya tak dapat mempercayainya," tambahnya yang dilansir HeraldSun.

Ketika mengunjungi area itu bersama tim ilmuwan geofisika dan astrofisika, Hamacher meyakini Palm Valley memang merupakan kawasan kawah meteor kuno. Keterkaitan antara dongeng kuno Aborigin dengan lokasi penemuan kawah bekas tabrakan meteor ini tentunya amat menarik.

"Banyak cerita Aborigin berhubungan dengan kawah atau meteor. Meski beberapa kawah berusia jutaan tahun di mana tidak ada yang menyaksikannya secara langsung, namun sepertinya cerita itu tahu asal usulnya," pungkas Hamacher.
























sumber: detikinet.com
Read More >>